Pemanfaatan Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) dalam
Pembelajaran di
Provinsi Sulawesi Tenggara
(Studi tentang Persepsi terhadap TIK bagi Guru SMPN se
Kota Kendari
Telah dilakukan penelitian bidang teknologi
pembelajaran terhadap Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri se Sulawesi
Tenggara yang diwakili oleh Kota Kendari sebagai ibukota dan Kabupaten Kolaka
mewakili daerah. Subyek penelitian adalah sarana dan prasarana Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK), guru SMPN. Penelitian ini diarahkan untuk; 1)
memperoleh gambaran tentang kesiapan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Sulawesi
Tenggara dalam pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
dan 2) Mendeskripsikan persepsi guru SMP terhadap pemanfaatan TIK dalam
pembelajaran di sekolah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei
dengan menggunakan 3 (tiga) instrumen yang meliputi Alat Ungkap Sarana dan
Prasarana TIK di sekolah serta Angket Persepsi terhadap TIK bagi Guru. Angket
persepsi terhadap
TIK bagi Guru terdiri dari 35 item. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 11 SMPN atau
64,71% dari 17 SMPN se Kota Kendari yang telah memiliki laboratorium Komputer
dan 11 SMPN atau 39,29% dari 28 SMPN se Kabupaten Kolaka yang memiliki
laboratorium. Berdasarkan data penelitian untuk skor persepsi terhadap TIK bagi
guru SMP negeri Kota Kendari dan Kabupaten Kolaka dengan rentang teorertis 0 -
140 diperoleh skor empiris 59 - 140. Disitribusi ini memberikan skor rata-rata
107,47, simpangan baku 11,44 dan median (Me) 107 serta modus (Mo) 104. Dengan
nilai tengah teoretis 70, maka guru dengan persepsi positif sebesar 99,78% dari
464 responden. Berdasarkan simpulan di atas direkomendasikan pembangunan
laboratorium komputer dan pengadaan komputer berbasis jaringan dan internet
bagi SMPN khususnya di luar Kota Kendari yang belum memiliki laboratorium
computer dengan mempertimbangkan rasio dan jumlah siswa. Perlu adanya pelatihan
bagi guru-guru tentang pemanfaatan TIK dalam pembelajaran secara berkala.
Disamping itu dalam pengembangan media pembelajaran berbasis TIK perlu adanya
insentif bagi guru-guru.
Kata Kunci : Teknologi
Informasi dan Komunikasi (TIK), media pembelajaran, Persepsi, Guru SMPN,
laboratorium komputer, internet
Bagian dari Hasil Penelitian
Kebijakan Balitbang Depdiknas Tahun 2006
Dosen Pendidikan MIPA FKIP
Universitas Haluoleo Kendari
Dosen Pendidikan IPS FKIP
Universitas Haluoleo Kendari
Dosen Fisika FMIPA/Kepala UPT PUSTIK Universitas Haluoleo Kendari
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Perkembangan teknologi terutama teknologi komunikasi
dan teknologi informasi (ICT), yang telah memperngaruhi sluruh aspek kehidupan
tak terkeculai pendidikan, sesungguhnya bias dimanfaatkan untuk memberikan
dukungan terhadap adanya tuntutan reformasi dalam system pendidikan.
Pengembangan dan pemanfaatan media pembelajaran berbasik TI baik yang bersifat off-line maupun on-line, bisa dimanfaatkan sebagai
bahan masukan bagi pihak-pihak yang berminat.
Teknologi informasi dan Komunikasi (TIK), dalam jangka
waktu yang relatif singkat, berkembang dengan sangat pesat. Pengguna Internet
di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang sangat signifikan.
Berdasarkan data perkiraan APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet
Indonesia) sampai dengan akhir tahun 2005 pengguna internet indonesia mencapai
16 juta pengguna, naik hampir 50 % dibandingkan dengan data pengguna internet
tahun 2004 yang mencapai 11 juta pengguna (www.wahanakom.com).
Dalam kebijakan nasional, TIK menjadi
kunci dalam 2 hal yaitu (1) effisiensi proses, dan (2) memenangkan kompetisi.
Demikian juga dengan lembaga pendidikan (sekolah). Tanggung jawab sekolah dalam
memasuki era globalisasi yaitu harus menyiapkan siswa untuk menghadapi semua
tantangan yang berubah sangat cepat dalam masyarakat kita. Hal ini menyebabkan
sekolah dituntut untuk mampu menghasilkan SDM-SDM unggul yang mampu bersaing
dalam kompetisi global ini. Peningkatan kualitas dan kemampuan siswa dapat
dilakukan dengan mudah, yakni dengan memanfaatkan internet sebagai lahan untuk
mengakses ilmu pengetahuan seluas-luasnya. Upaya ini dapat dilakukan dengan
memasukkan TIK sebagai pendekatan dalam proses pembelajaran pada Lembaga
Pendidikan (Sekolah).
Dinas Pendidikan Nasional
sebagai induk dari sekolah, memiliki beberapa program yang berguna bagi
peningkatan kualitas siswa dan sekolah dengan memanfaatkan TIK, misalnya
Jaringan Informasi sekolah (www.jis.or.id), portal
bahan belajar dan jaringan komunikasi sekolah (www.edukasi.net), media
sharing ilmu pengetahuan (Open
Knowledge & Education, www.oke.or.id).
Dari pernyataan di atas
menunjukan bahwa TIK sangat diperlukan dalam proses pembelajaran pada lembaga
pendidikan (Sekolah), namun beberapa sekolah di Propinsi Sulawesi Tenggara
belum siap melaksanakan pembelajaran TIK. Hal ini terungkap pada sosialisasi
Undang-Undang No. 19 Tahun 2005, tentang Standarisasi Pendidikan Nasional di
LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan) Kendari, pada akhir tahun 2005,
beberapa kepala sekolah dan guru mempertanyakan tentang mata pelajaran TIK
(Teknologi Informasi dan Komunikasi). Mata pelajaran ini dianggap sulit
diajarkan karena sebagian besar guru belum memiliki kemampuan yang memadai
untuk mengajarkan mata pelajaran TIK tersebut, beragamnya persepsi dan sikap
guru tentang TIK. Di samping itu beberapa sekolah belum dilengkapi komputer
yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran guna menunjang peningkatan
mutu pendidikan.
Kemampuan dan pemahaman guru terhadap TIK dipengaruhi
antara lain oleh persepsi. Presepsi guru sebagai hasil proses mental
menghasilkan bayangan sehingga ia dapat mengenal obyek dengan jalan asosisiasi
pada suatu ingatan lebih lama. Proses mental yang dikembangkan merupakan hal
posisitif sehingga guru menyadari keberadaan dan fungsinya sebagai pentransfer
nilai, ide dan konsep kepada siswanya.
Dalam rangka sosialisasi Kurikulum Berbasis Kompetensi
yang digulirkan mulai tahun 2004/2005, maka TIK merupakan suatu matapelajaran
tersendiri yang seharusnya diajarkan sejak Kelas VII pada sekolah lanjutan
tingkat pertama (SMP). Namun dengan segala keterbatasan yang ada yang meliputi
fasilitas komputer dan guru matapelajaran, maka setiap sekolah membuat
kebijakan sendiri dalam pelaksanaan pembelajaran TIK ini, ada sekolah yang
hanya menawarkan matapelakaran ini di Kelas VII, ada nanti di Kelas VIII,
bahkan ada yang tidak sama sekali 2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas tentang pentingnya
TIK dalam upaya peningkatan mutu di sekolah, maka masalah yang dikaji dalam
penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
a. Bagaimana kesiapan Sekolah
Menengah Pertama (SMP) di Sulawesi Tenggara
dalam pembelajaran berbasis TIK?
b. Bagaimana persepsi guru
SMP terhadap pemanfaatan
TIK dalam pembelajaran?
3. Tujuan Dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
a. Memperoleh gambaran tentang kesiapan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di
Sulawesi Tenggara dalam pembelajaran berbasis TIK
b. Mendeskripsikan persepsi guru SMP terhadap pemanfaatan TIK dalam
pembelajaran di sekolah
Adapun
manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah, sebagai bahan pertimbangan
dalam menentukan kebijakan pelaksanaan pembelajaran berbasis TIK guna meningkatkan
mutu pendidikan di Sulawesi Tenggara pada khususnya dan di Indonesia pada
umumnya.
4. Ruang Lingkup
Dalam
penelitian ini, ada 2 (dua) hal yang akan dikaji yaitu: (1) kesiapan Sekolah
Menengah Pertama (SMP) di Sulawesi Tenggara dalam hal pembelajaran berbasis
TIK, dan (2) persepsi guru SMP terhadap pemanfaatan TIK dalam pembelajaran.
Kedua hal ini diperoleh melalui data survei yang akan dilakukan di
sekolah-sekolah SMP Kabupaten Kolaka dan Kota Kendari sebagai representasi
sekolah-sekolah SMP Propinsi Sulawesi Tenggara.
Pengkajian tentang kesiapan SMP dalam hal pembelajaran
berbasis TIK, meliputi ketersediaan sarana penunjang pembelajaran TIK seperti :
Ketersediaan komputer, jaringan telepon, dan guru yang memiliki kemampuan TIK.
Sedangkan Pengkajian tentang persepsi guru meliputi pandangan atau tanggapan
guru dan siswa terhadap TIK .
B. KAJIAN
TEORI 1. Persepsi
Persepsi merupakan tanggapan (penerimaan) langsung dari suatu serapan.
Dalam KBBI (1990), disebut sebagai suatu proses seseorang dalam mengetahui
beberapa hal melalui panca inderanya. Dalam tanggapannya, seseorang tidak harus
melihat hal atau bendanya secara konkret. Tanggapan secara abstrak pun, yang
ditandai dengan : (a) bendanya tidak ada; (b) hanya berupa bayangan;. (c) tidak
tergantung waktu dan tempat; dan (d) bersifat imaginer juga merupakan ciri
persepsi (Dakir, 1993). Dengan demikian persepsi seseorang bisa dilakukan
dengan cara langsung dan tidak langsung.
Persepsi merupakan suatu proses yang bersifat kompleks
yang menyebabkan orang dapat menerima atau meringkas informasi yang diperoleh
dari lingkungannya (Fleming & Levie, 1981). Proses tersebut berawal dari
komponen kognisi (Mann, 1969) sehingga persepsi dianggap sebagai tingkat awal
struktur kognitif seseorang. Melalui komponen kognisi akan dihasilkan ide,
kemudian konsep, dan pemahaman mengenai apa yang dilihat. Dengan demikian
persepsi seseorang pada obyek psikologik yakni berupa kejadian, ide atau
situasi tertentu akan menghasilkan tanggapan yang berupa gambaran atau semacam
bekas yang tinggal dalam ingatan (Sardiman, 1992) . Gambaran yang diperoleh itu
selalu terkenang dan membekas sehingga mempengaruhi perilakunya. Dalam dunia
pendidikan tanggapan yang akan diperoieh subyek didik diarahkan pada tujuan
yang telah ditetapkan.
Pengamatan manusia pada suatu obyek psikologik
diwarnai nilai kepribadiannya. Dengan perkataan lain, persepsi seseorang
dipengaruhi oleh berbagai faktor. Menurut Dakir (1993), faktor-faktor itu
dikelompokkan menjadi faktor intern meliputi alat indera sehat dan perhatian,
serta faktor ekstern yang meliputi rangsang jelas dan waktu cukup. Dalam
istilah lain faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi meliputi faktor ciri-ciri
khas dari obyek stimulus, faktorfaktor pribadi, faktor pengaruh
kelompok dan faktor perbedaan latar belakang kultural (Sadli,1977). Dalam pada
itu pengalaman, proses betajar, cakrawala, dan pengetahuan juga mempengaruhi
persepsi. Menurut Mar'at (1984), faktor pengalaman dan faktor proses belajar
atau sosialisasi mempengaruhi persepsi karena akan memberikan bentuk dan
struktur terhadap apa yang dilihat. Faktor pengetahuan dan faktor cakrawala
akan memberikan arti pada obyek psikologik.
Persepsi seseorang diwarnai oleh komponen afeksi yakni
suatu komponen yang memberikan evaluasi emosional berupa senang atau tidak
senang terhadap suatu obyek. Persepsi seseorang juga diwarnai oleh komponen
konasi yakni kecenderungan bertingkah Iaku, yang menentukan kesediaan jawaban
berupa tindakan terhadap obyek. Komponen konasi berperan sebagai keseimbangan.
Apabila obyek yang dilihat sesuai dengan penghayatan, yakni unsur nilai dan
norma dirinya dapat menerima secara rasional dan emosional maka individu akan
menerima. Sebaliknya, apabila situasi keseimbangan tidak tercapai maka individu
menolak dan reaksi yang timbul adalah sikap apatiis, menentang, bahkan
memberontak.
Kajian persepsi di depan sejalan dengan pendapat dari
Bell (Sumardjoko, 1995), yang menyatakan bahwa persepsi merupakan hasil
interaksi antara individu dengan obyek. Menurutnya, tahap paling awal dari
hubungan manusia dengan lingkungannya adalah kontak fisik individu dengan obyek
fisiknya. Obyek tampil dengan kemanfaatan masing-masing, sedang individu datang
dengan sifat-sifat individu, pengalaman, bakat, minat, dan berbagai ciri
kepribadiannya. Hasil interaksi individu dengan obyek adalah persepsi individu
tentang obyek itu sendiri. Jika persepsi masih berada dalam batas optimal
individu berarti terjadi keadaan seimbang sehingga dipertahankan karena
menyenangkan. Sebaliknya jika obyek yang dipersepsi sebagai di luar batas
optimal menimbulkan tekanan atau stress. Tekanan yang sangat membebani itu mengakibatkan
individu melakukan coping behavior atau penyesuaian diri dengan kondisi dirinya. Terhadap
penyesuaian diri individu menimbulkan dua kemungkinan yakni gagal atau sukses.
Dari penjelasan Bell di depan menunjukkan bahwa
persepsi tidak bersifat statis, melainkan bisa berubah-ubah. Dalam istilah lain
persepsi itu sifatnya relatif atau tidak absolut (Soekamto, 1992) tergantung
pada pengalaman tepat sebelumnya. Hal ini disebabkan karena hasil dari tingkah
Iaku berupa coping
akan
menyebabkan perubahan pada individu maupun pada persepsinya. Sarwono (1992)
menjelaskan proses perubahan persepsi yang bisa disebabkan oleh proses faal
(fisiologik) dari sistem syaraf pada indera-indera manusia maupun disebabkan
oleh proses psikologik.
2. Hakekat Teknologi Pembelajaran
Teknologi pendidikan sering dikacaukan dengan istilah
teknologi pengajaran. Teknologi pengajaran merupakan bagian dari teknologi
pendidikan. Hal ini didasarkan pada konsep bahwa pengajaran adalah bagian dari
pendidikan. Teknologi pengajaran merupakan satu himpunan dari proses
terintegrasi yang melibatkan manusia, prosedur, gagasan, peralatan, dan
organisasi serta pengelolaan cara-cara pemecahan masalah pendidikan yang
terdapat di dalam situasi belajar yang memiliki tujuan dan disengaja (Sudjana
dan Rivai, 2001). Selanjutnya Sudjana mengatakan bahwa teknologi pengajaran
adalah merupakan sebuah konsep yang kompleks sehingga memerlukan definisi yang
kompleks pula. Definisi-definisi yang muncul hendaknya dipandang sebagai satu
kesatuan sebab tidak ada satu pun definisi yang lengkap. Teknologi pengajaran
merupakan satu himpunan dari proses terintegrasi yang melibatkan manusia,
prosedur, gagasan, peralatan, dan organisasi serta pengelolaan cara-cara
pemecahan masalah pendidikan yang terdapat di dalam situasi balajar yang
memiliki tujuan dan disengaja (Sudjana dan Rivai, 2001).
Inovasi di bidang teknologi terutama teknologi
informatika telah merubah wajah dunia pendidikan dari sistem korespondensi
menjadi sistem pembelajaran apa yang dikenal dengan istilah belajar jarak jauh.
Sejak itu pulalah perubahan besar di bidang pendidkan telah terjadi melalui
perkembangan teknologi komunikasi yang menggunakan jasa satelit, transmisi
gelombang mikro, kabel optik dan komputer yang memungkinkan terjadinya
komunikasi yang sangat cepat efektif dan efesien. Penggunaan interaktif
teknologi canggih itulah telah mengubah wajah pendidikan dengan cepat
diantaranya: produksi bahan pembelajaran, merancang bahan pembelajaran itu
sendiri, telah tersedia sangat banyak dan begitu canggih.
Tidak ketinggalan perpustakaanpun telah mulai
menyediakan video, disc dan perangkat lunak komputer. Kalau begitu, apakah
sesungguhnya hakikat teknologi itu?
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah merambah
ke berbagai sektor bidang kehidupan, bukan saja bidang pendidikan akan tetapi
hampir semua aspek dalam kehidupan umat manusia yang bersifat multi
dimensional. Teknologi memberikan kemudahan, kebaikan, dan mempercepat proses
komunikasi yang lebih efektif serta efesien yang dapat meningkatkan kualitas
kehidupan manusia. Manusia sebagai mahluk homo sapiens dan sekaligus sebagai
homo faber telah mengembangkan teknologi yang menghasilkan berbagai keajaiban.
Manusia disebut homo faber karena ia mahluk yang suka membuat peralatan,
sedangkan sebagai homo sapiens karena ia selalu berpikir yang mencerminkan
kaitan antara pengetahuan yang bersifat teoritis dengan teknologi yang bersifat
praktis. Pada dasarnya ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat
menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia melakukan
serangkaian tindakan untuk menguasai gejala tersebut berdasarkan penjelasan
yang ada (Suriasumantri, 1999).
Ditinjau dari segi aksiologi maka ilmu harus
mengembangkan berbagai sarana, dan harus memberikan kemaslahatan bagi umat
manusia. Ilmu merupakan pengetahuan yang memungkinkan manusia dapat
mengembangkan teknologi, tanpa ilmu teknologi tidak mungkin dapat berkembang,
sebab teknologi merupakan penerapan ilmu. Bila ilmu dikembangkan sebagai suatu
cara atau alat untuk memenuhi suatu keperluan hidup tertentu, maka terciptalah
teknologi. Sehingga dengan demikian ilmu adalah pengetahuan yang dikembangkan
oleh manusia untuk memecahkan masalah-masalah praktis dalam kehidupannya
(Sumantri, 1999:161). Menurut Arnold Johnson & Martin Peterson dalam The
Liang Gie (1996) menyatakan bahwa teknologi adalah penerapan dari ilmu dan
hasil-hasil penelitian ilmiah untuk pemecahan masalah-masalah praktis.
Dalam proses belajar mengajar, model pendidikan
teknologis lebih menitik beratkan kemampuan peserta didik secara individual
terhadap materi pembelajaran yang telah disusun ke tingkat kesiapan sehingga
peserta didik mampu memperlihatkan perilaku yang sesuai dengan yang diharapkan.
Melalui teknologi, materi pelajaran dan metodologi pengajaran ditetapkan dengan
dukungan teknologi. Singkatnya secara esensial teknologi pengajaran dapat
menggantikan peran pendidik dan peserta dapat berperan aktif sebagai pelatih
yang mempelajari semua data dan
keterampilan yang berguna. Asosiasi
Komunikasi dan Teknologi Pendidikan (The Association
for Educational Communications and Technology - AECT), sejak tahun 1977 telah
merumuskan definisi atau istilah dalam bidang studi ini. Sebagian dari istilah
tersebut berorientasi terhadap profesi secara umum dan yang lain berorientasi
secara khusus terutama berkaitan dengan media. Meskipun Asosiasi mengajukan
definisi tersebut, namun Asosiasi mempunyai komitmen untuk secara terus menerus
mengkaji ulang definisi dan memperbaiki serta menerbitkannya. Teknologi
pengajaran mulai tumbuh dan berkembang baik sebagai profesi maupun sebagai
bidang studi akademik yang terus dikaji. Asosiasi Komunikasi dan Teknologi
Pendidikan (the
Association for Educational Communications and Technology -AECT) telah membentuk Komisi
definisi dan terminologi yang secara resmi pada tahun 1994 telah merumuskan
definisi teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain
pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan serta evaluasi proses dan sumber untuk
belajar. Selanjutnya Sells dan Richey mengatakan bahwa
teknologi instruksional merupakan teori dan praktek dari desain, pengembangan,
pemanfaatan manajemen, dan evaluasi terhadap proses dan sumber daya untuk mencapai
tujuan belajar. Definisi tersebut dimaksudkan untuk melingkupi keseluruhan
dimensi teori dan praktek bidang teknologi instruksional, tetapi nampaknya
masih tetap menggunakan pijakan teori lama yang dikembangkan dari AECT sambil
mengakomodasikan perkembangan baru dan penerapan teknologi instruksional di
lapangan.
Berdasarkan beberapa definisi tersebut ternyata satu
dengan yang lain tidak selalu sejalan bahkan seringkali mengandung perbedaan
konsep yang mengakibatkan perdebatan sengit di antara para pakar. Tidak ada
satu teoripun yang disepakati oleh semua orang. Namun keadaan seperti itu biasa
terjadi dalam menjelaskan hakikat ilmu apalagi ilmu-ilmu sosial. Hal itulah
yang menyebabkan teknologi pendidikan menjadi kajian yang dinamis dan sangat
menarik. Walaupun demikian keunikan teknologi pendidikan sebagai suatu bidang
terapan telah disepakati bahwa tercermin dalam tiga konsep utamanya (Suparman,
2001:9), yaitu: (1) menggunakan berbagai jenis sumber balajar termasuk di
dalamnya berbagai macam media, peralatan, manusia, teknik, metode, dan strategi
pembelajaran. (2) penekanan dan berfokus pada belajar menjadi lebih menyentuh
dan lebih bermakna bagi setiap individu dan bersifat pribadi bagi orang yang
belajar. (3) menggunakan pendekatan sistem dalam pemecahan masalah"human learning". Ini berarti bahwa jejak dari
para ahli dan praktisi teknologi pendidikan dapat ditelusuri dari hasil
pemikiran dan prakteknya dalam pemecahan masalah-masalah pendidikan yang tidak
lepas dari ketiga ciri unik tersebut. 3. Perkembangan
Teknologi Pendidikan