Sabtu, 06 Juli 2013

makalah ict

Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam
Pembelajaran di Provinsi Sulawesi Tenggara
(Studi tentang Persepsi terhadap TIK bagi Guru SMPN se Kota Kendari
Telah dilakukan penelitian bidang teknologi pembelajaran terhadap Sekolah Menengah Pertama (SMP) negeri se Sulawesi Tenggara yang diwakili oleh Kota Kendari sebagai ibukota dan Kabupaten Kolaka mewakili daerah. Subyek penelitian adalah sarana dan prasarana Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), guru SMPN. Penelitian ini diarahkan untuk; 1) memperoleh gambaran tentang kesiapan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Sulawesi Tenggara dalam pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan 2) Mendeskripsikan persepsi guru SMP terhadap pemanfaatan TIK dalam pembelajaran di sekolah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode survei dengan menggunakan 3 (tiga) instrumen yang meliputi Alat Ungkap Sarana dan Prasarana TIK di sekolah serta Angket Persepsi terhadap TIK bagi Guru. Angket persepsi terhadap TIK bagi Guru terdiri dari 35 item. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 11 SMPN atau 64,71% dari 17 SMPN se Kota Kendari yang telah memiliki laboratorium Komputer dan 11 SMPN atau 39,29% dari 28 SMPN se Kabupaten Kolaka yang memiliki laboratorium. Berdasarkan data penelitian untuk skor persepsi terhadap TIK bagi guru SMP negeri Kota Kendari dan Kabupaten Kolaka dengan rentang teorertis 0 - 140 diperoleh skor empiris 59 - 140. Disitribusi ini memberikan skor rata-rata 107,47, simpangan baku 11,44 dan median (Me) 107 serta modus (Mo) 104. Dengan nilai tengah teoretis 70, maka guru dengan persepsi positif sebesar 99,78% dari 464 responden. Berdasarkan simpulan di atas direkomendasikan pembangunan laboratorium komputer dan pengadaan komputer berbasis jaringan dan internet bagi SMPN khususnya di luar Kota Kendari yang belum memiliki laboratorium computer dengan mempertimbangkan rasio dan jumlah siswa. Perlu adanya pelatihan bagi guru-guru tentang pemanfaatan TIK dalam pembelajaran secara berkala. Disamping itu dalam pengembangan media pembelajaran berbasis TIK perlu adanya insentif bagi guru-guru.
Kata Kunci : Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), media pembelajaran, Persepsi, Guru SMPN, laboratorium komputer, internet


Bagian dari Hasil Penelitian Kebijakan Balitbang Depdiknas Tahun 2006
Dosen Pendidikan MIPA FKIP Universitas Haluoleo Kendari
Dosen Pendidikan IPS FKIP Universitas Haluoleo Kendari
Dosen Fisika FMIPA/Kepala UPT PUSTIK Universitas Haluoleo Kendari
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang Masalah
Perkembangan teknologi terutama teknologi komunikasi dan teknologi informasi (ICT), yang telah memperngaruhi sluruh aspek kehidupan tak terkeculai pendidikan, sesungguhnya bias dimanfaatkan untuk memberikan dukungan terhadap adanya tuntutan reformasi dalam system pendidikan. Pengembangan dan pemanfaatan media pembelajaran berbasik TI baik yang bersifat off-line maupun on-line, bisa dimanfaatkan sebagai bahan masukan bagi pihak-pihak yang berminat.
Teknologi informasi dan Komunikasi (TIK), dalam jangka waktu yang relatif singkat, berkembang dengan sangat pesat. Pengguna Internet di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang sangat signifikan. Berdasarkan data perkiraan APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) sampai dengan akhir tahun 2005 pengguna internet indonesia mencapai 16 juta pengguna, naik hampir 50 % dibandingkan dengan data pengguna internet tahun 2004 yang mencapai 11 juta pengguna (www.wahanakom.com).
Dalam kebijakan nasional, TIK menjadi kunci dalam 2 hal yaitu (1) effisiensi proses, dan (2) memenangkan kompetisi. Demikian juga dengan lembaga pendidikan (sekolah). Tanggung jawab sekolah dalam memasuki era globalisasi yaitu harus menyiapkan siswa untuk menghadapi semua tantangan yang berubah sangat cepat dalam masyarakat kita. Hal ini menyebabkan sekolah dituntut untuk mampu menghasilkan SDM-SDM unggul yang mampu bersaing dalam kompetisi global ini. Peningkatan kualitas dan kemampuan siswa dapat dilakukan dengan mudah, yakni dengan memanfaatkan internet sebagai lahan untuk mengakses ilmu pengetahuan seluas-luasnya. Upaya ini dapat dilakukan dengan memasukkan TIK sebagai pendekatan dalam proses pembelajaran pada Lembaga Pendidikan (Sekolah).
Dinas Pendidikan Nasional sebagai induk dari sekolah, memiliki beberapa program yang berguna bagi peningkatan kualitas siswa dan sekolah dengan memanfaatkan TIK, misalnya Jaringan Informasi sekolah (www.jis.or.id), portal bahan belajar dan jaringan komunikasi sekolah (www.edukasi.net), media sharing ilmu pengetahuan (Open Knowledge & Education, www.oke.or.id).
Dari pernyataan di atas menunjukan bahwa TIK sangat diperlukan dalam proses pembelajaran pada lembaga pendidikan (Sekolah), namun beberapa sekolah di Propinsi Sulawesi Tenggara belum siap melaksanakan pembelajaran TIK. Hal ini terungkap pada sosialisasi Undang-Undang No. 19 Tahun 2005, tentang Standarisasi Pendidikan Nasional di LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan) Kendari, pada akhir tahun 2005, beberapa kepala sekolah dan guru mempertanyakan tentang mata pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Mata pelajaran ini dianggap sulit diajarkan karena sebagian besar guru belum memiliki kemampuan yang memadai untuk mengajarkan mata pelajaran TIK tersebut, beragamnya persepsi dan sikap guru tentang TIK. Di samping itu beberapa sekolah belum dilengkapi komputer yang dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran guna menunjang peningkatan mutu pendidikan.
Kemampuan dan pemahaman guru terhadap TIK dipengaruhi antara lain oleh persepsi. Presepsi guru sebagai hasil proses mental menghasilkan bayangan sehingga ia dapat mengenal obyek dengan jalan asosisiasi pada suatu ingatan lebih lama. Proses mental yang dikembangkan merupakan hal posisitif sehingga guru menyadari keberadaan dan fungsinya sebagai pentransfer nilai, ide dan konsep kepada siswanya.
Dalam rangka sosialisasi Kurikulum Berbasis Kompetensi yang digulirkan mulai tahun 2004/2005, maka TIK merupakan suatu matapelajaran tersendiri yang seharusnya diajarkan sejak Kelas VII pada sekolah lanjutan tingkat pertama (SMP). Namun dengan segala keterbatasan yang ada yang meliputi fasilitas komputer dan guru matapelajaran, maka setiap sekolah membuat kebijakan sendiri dalam pelaksanaan pembelajaran TIK ini, ada sekolah yang hanya menawarkan matapelakaran ini di Kelas VII, ada nanti di Kelas VIII, bahkan ada yang tidak sama sekali 2. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas tentang pentingnya TIK dalam upaya peningkatan mutu di sekolah, maka masalah yang dikaji dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
a. Bagaimana kesiapan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Sulawesi Tenggara
dalam pembelajaran berbasis TIK?
b. Bagaimana   persepsi   guru   SMP   terhadap   pemanfaatan   TIK   dalam pembelajaran?

3.    Tujuan Dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah :
a.    Memperoleh gambaran tentang kesiapan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di
Sulawesi Tenggara dalam pembelajaran berbasis TIK
b.    Mendeskripsikan persepsi guru SMP terhadap pemanfaatan TIK dalam
pembelajaran di sekolah
Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah, sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan pelaksanaan pembelajaran berbasis TIK guna meningkatkan mutu pendidikan di Sulawesi Tenggara pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya.

4.    Ruang Lingkup
Dalam penelitian ini, ada 2 (dua) hal yang akan dikaji yaitu: (1) kesiapan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Sulawesi Tenggara dalam hal pembelajaran berbasis TIK, dan (2) persepsi guru SMP terhadap pemanfaatan TIK dalam pembelajaran. Kedua hal ini diperoleh melalui data survei yang akan dilakukan di sekolah-sekolah SMP Kabupaten Kolaka dan Kota Kendari sebagai representasi sekolah-sekolah SMP Propinsi Sulawesi Tenggara.
Pengkajian tentang kesiapan SMP dalam hal pembelajaran berbasis TIK, meliputi ketersediaan sarana penunjang pembelajaran TIK seperti : Ketersediaan komputer, jaringan telepon, dan guru yang memiliki kemampuan TIK. Sedangkan Pengkajian tentang persepsi guru meliputi pandangan atau tanggapan guru dan siswa terhadap TIK .
B.      KAJIAN TEORI 1.   Persepsi
Persepsi merupakan tanggapan (penerimaan) langsung dari suatu serapan. Dalam KBBI (1990), disebut sebagai suatu proses seseorang dalam mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya. Dalam tanggapannya, seseorang tidak harus melihat hal atau bendanya secara konkret. Tanggapan secara abstrak pun, yang ditandai dengan : (a) bendanya tidak ada; (b) hanya berupa bayangan;. (c) tidak tergantung waktu dan tempat; dan (d) bersifat imaginer juga merupakan ciri persepsi (Dakir, 1993). Dengan demikian persepsi seseorang bisa dilakukan dengan cara langsung dan tidak langsung.
Persepsi merupakan suatu proses yang bersifat kompleks yang menyebabkan orang dapat menerima atau meringkas informasi yang diperoleh dari lingkungannya (Fleming & Levie, 1981). Proses tersebut berawal dari komponen kognisi (Mann, 1969) sehingga persepsi dianggap sebagai tingkat awal struktur kognitif seseorang. Melalui komponen kognisi akan dihasilkan ide, kemudian konsep, dan pemahaman mengenai apa yang dilihat. Dengan demikian persepsi seseorang pada obyek psikologik yakni berupa kejadian, ide atau situasi tertentu akan menghasilkan tanggapan yang berupa gambaran atau semacam bekas yang tinggal dalam ingatan (Sardiman, 1992) . Gambaran yang diperoleh itu selalu terkenang dan membekas sehingga mempengaruhi perilakunya. Dalam dunia pendidikan tanggapan yang akan diperoieh subyek didik diarahkan pada tujuan yang telah ditetapkan.
Pengamatan manusia pada suatu obyek psikologik diwarnai nilai kepribadiannya. Dengan perkataan lain, persepsi seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Menurut Dakir (1993), faktor-faktor itu dikelompokkan menjadi faktor intern meliputi alat indera sehat dan perhatian, serta faktor ekstern yang meliputi rangsang jelas dan waktu cukup. Dalam istilah lain faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi meliputi faktor ciri-ciri khas dari obyek stimulus, faktor­faktor pribadi, faktor pengaruh kelompok dan faktor perbedaan latar belakang kultural (Sadli,1977). Dalam pada itu pengalaman, proses betajar, cakrawala, dan pengetahuan juga mempengaruhi persepsi. Menurut Mar'at (1984), faktor pengalaman dan faktor proses belajar atau sosialisasi mempengaruhi persepsi karena akan memberikan bentuk dan struktur terhadap apa yang dilihat. Faktor pengetahuan dan faktor cakrawala akan memberikan arti pada obyek psikologik.
Persepsi seseorang diwarnai oleh komponen afeksi yakni suatu komponen yang memberikan evaluasi emosional berupa senang atau tidak senang terhadap suatu obyek. Persepsi seseorang juga diwarnai oleh komponen konasi yakni kecenderungan bertingkah Iaku, yang menentukan kesediaan jawaban berupa tindakan terhadap obyek. Komponen konasi berperan sebagai keseimbangan. Apabila obyek yang dilihat sesuai dengan penghayatan, yakni unsur nilai dan norma dirinya dapat menerima secara rasional dan emosional maka individu akan menerima. Sebaliknya, apabila situasi keseimbangan tidak tercapai maka individu menolak dan reaksi yang timbul adalah sikap apatiis, menentang, bahkan memberontak.
Kajian persepsi di depan sejalan dengan pendapat dari Bell (Sumardjoko, 1995), yang menyatakan bahwa persepsi merupakan hasil interaksi antara individu dengan obyek. Menurutnya, tahap paling awal dari hubungan manusia dengan lingkungannya adalah kontak fisik individu dengan obyek fisiknya. Obyek tampil dengan kemanfaatan masing-masing, sedang individu datang dengan sifat-sifat individu, pengalaman, bakat, minat, dan berbagai ciri kepribadiannya. Hasil interaksi individu dengan obyek adalah persepsi individu tentang obyek itu sendiri. Jika persepsi masih berada dalam batas optimal individu berarti terjadi keadaan seimbang sehingga dipertahankan karena menyenangkan. Sebaliknya jika obyek yang dipersepsi sebagai di luar batas optimal menimbulkan tekanan atau stress. Tekanan yang sangat membebani itu mengakibatkan individu melakukan coping behavior atau penyesuaian diri dengan kondisi dirinya. Terhadap penyesuaian diri individu menimbulkan dua kemungkinan yakni gagal atau sukses.
Dari penjelasan Bell di depan menunjukkan bahwa persepsi tidak bersifat statis, melainkan bisa berubah-ubah. Dalam istilah lain persepsi itu sifatnya relatif atau tidak absolut (Soekamto, 1992) tergantung pada pengalaman tepat sebelumnya. Hal ini disebabkan karena hasil dari tingkah Iaku berupa coping akan menyebabkan perubahan pada individu maupun pada persepsinya. Sarwono (1992) menjelaskan proses perubahan persepsi yang bisa disebabkan oleh proses faal (fisiologik) dari sistem syaraf pada indera-indera manusia maupun disebabkan oleh proses psikologik.
2.   Hakekat Teknologi Pembelajaran
Teknologi pendidikan sering dikacaukan dengan istilah teknologi pengajaran. Teknologi pengajaran merupakan bagian dari teknologi pendidikan. Hal ini didasarkan pada konsep bahwa pengajaran adalah bagian dari pendidikan. Teknologi pengajaran merupakan satu himpunan dari proses terintegrasi yang melibatkan manusia, prosedur, gagasan, peralatan, dan organisasi serta pengelolaan cara-cara pemecahan masalah pendidikan yang terdapat di dalam situasi belajar yang memiliki tujuan dan disengaja (Sudjana dan Rivai, 2001). Selanjutnya Sudjana mengatakan bahwa teknologi pengajaran adalah merupakan sebuah konsep yang kompleks sehingga memerlukan definisi yang kompleks pula. Definisi-definisi yang muncul hendaknya dipandang sebagai satu kesatuan sebab tidak ada satu pun definisi yang lengkap. Teknologi pengajaran merupakan satu himpunan dari proses terintegrasi yang melibatkan manusia, prosedur, gagasan, peralatan, dan organisasi serta pengelolaan cara-cara pemecahan masalah pendidikan yang terdapat di dalam situasi balajar yang memiliki tujuan dan disengaja (Sudjana dan Rivai, 2001).
Inovasi di bidang teknologi terutama teknologi informatika telah merubah wajah dunia pendidikan dari sistem korespondensi menjadi sistem pembelajaran apa yang dikenal dengan istilah belajar jarak jauh. Sejak itu pulalah perubahan besar di bidang pendidkan telah terjadi melalui perkembangan teknologi komunikasi yang menggunakan jasa satelit, transmisi gelombang mikro, kabel optik dan komputer yang memungkinkan terjadinya komunikasi yang sangat cepat efektif dan efesien. Penggunaan interaktif teknologi canggih itulah telah mengubah wajah pendidikan dengan cepat diantaranya: produksi bahan pembelajaran, merancang bahan pembelajaran itu sendiri, telah tersedia sangat banyak dan begitu canggih.
Tidak ketinggalan perpustakaanpun telah mulai menyediakan video, disc dan perangkat lunak komputer. Kalau begitu, apakah sesungguhnya hakikat teknologi itu?
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah merambah ke berbagai sektor bidang kehidupan, bukan saja bidang pendidikan akan tetapi hampir semua aspek dalam kehidupan umat manusia yang bersifat multi dimensional. Teknologi memberikan kemudahan, kebaikan, dan mempercepat proses komunikasi yang lebih efektif serta efesien yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Manusia sebagai mahluk homo sapiens dan sekaligus sebagai homo faber telah mengembangkan teknologi yang menghasilkan berbagai keajaiban. Manusia disebut homo faber karena ia mahluk yang suka membuat peralatan, sedangkan sebagai homo sapiens karena ia selalu berpikir yang mencerminkan kaitan antara pengetahuan yang bersifat teoritis dengan teknologi yang bersifat praktis. Pada dasarnya ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia melakukan serangkaian tindakan untuk menguasai gejala tersebut berdasarkan penjelasan yang ada (Suriasumantri, 1999).
Ditinjau dari segi aksiologi maka ilmu harus mengembangkan berbagai sarana, dan harus memberikan kemaslahatan bagi umat manusia. Ilmu merupakan pengetahuan yang memungkinkan manusia dapat mengembangkan teknologi, tanpa ilmu teknologi tidak mungkin dapat berkembang, sebab teknologi merupakan penerapan ilmu. Bila ilmu dikembangkan sebagai suatu cara atau alat untuk memenuhi suatu keperluan hidup tertentu, maka terciptalah teknologi. Sehingga dengan demikian ilmu adalah pengetahuan yang dikembangkan oleh manusia untuk memecahkan masalah-masalah praktis dalam kehidupannya (Sumantri, 1999:161). Menurut Arnold Johnson & Martin Peterson dalam The Liang Gie (1996) menyatakan bahwa teknologi adalah penerapan dari ilmu dan hasil-hasil penelitian ilmiah untuk pemecahan masalah-masalah praktis.
Dalam proses belajar mengajar, model pendidikan teknologis lebih menitik beratkan kemampuan peserta didik secara individual terhadap materi pembelajaran yang telah disusun ke tingkat kesiapan sehingga peserta didik mampu memperlihatkan perilaku yang sesuai dengan yang diharapkan. Melalui teknologi, materi pelajaran dan metodologi pengajaran ditetapkan dengan dukungan teknologi. Singkatnya secara esensial teknologi pengajaran dapat menggantikan peran pendidik dan peserta dapat berperan aktif sebagai pelatih yang mempelajari  semua data dan keterampilan yang berguna.  Asosiasi
Komunikasi dan Teknologi Pendidikan (The Association for Educational Communications and Technology - AECT), sejak tahun 1977 telah merumuskan definisi atau istilah dalam bidang studi ini. Sebagian dari istilah tersebut berorientasi terhadap profesi secara umum dan yang lain berorientasi secara khusus terutama berkaitan dengan media. Meskipun Asosiasi mengajukan definisi tersebut, namun Asosiasi mempunyai komitmen untuk secara terus menerus mengkaji ulang definisi dan memperbaiki serta menerbitkannya. Teknologi pengajaran mulai tumbuh dan berkembang baik sebagai profesi maupun sebagai bidang studi akademik yang terus dikaji. Asosiasi Komunikasi dan Teknologi Pendidikan (the Association for Educational Communications and Technology -AECT) telah membentuk Komisi definisi dan terminologi yang secara resmi pada tahun 1994 telah merumuskan definisi teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan serta evaluasi proses dan sumber untuk belajar. Selanjutnya Sells dan Richey mengatakan bahwa teknologi instruksional merupakan teori dan praktek dari desain, pengembangan, pemanfaatan manajemen, dan evaluasi terhadap proses dan sumber daya untuk mencapai tujuan belajar. Definisi tersebut dimaksudkan untuk melingkupi keseluruhan dimensi teori dan praktek bidang teknologi instruksional, tetapi nampaknya masih tetap menggunakan pijakan teori lama yang dikembangkan dari AECT sambil mengakomodasikan perkembangan baru dan penerapan teknologi instruksional di lapangan.

Berdasarkan beberapa definisi tersebut ternyata satu dengan yang lain tidak selalu sejalan bahkan seringkali mengandung perbedaan konsep yang mengakibatkan perdebatan sengit di antara para pakar. Tidak ada satu teoripun yang disepakati oleh semua orang. Namun keadaan seperti itu biasa terjadi dalam menjelaskan hakikat ilmu apalagi ilmu-ilmu sosial. Hal itulah yang menyebabkan teknologi pendidikan menjadi kajian yang dinamis dan sangat menarik. Walaupun demikian keunikan teknologi pendidikan sebagai suatu bidang terapan telah disepakati bahwa tercermin dalam tiga konsep utamanya (Suparman, 2001:9), yaitu: (1) menggunakan berbagai jenis sumber balajar termasuk di dalamnya berbagai macam media, peralatan, manusia, teknik, metode, dan strategi pembelajaran. (2) penekanan dan berfokus pada belajar menjadi lebih menyentuh dan lebih bermakna bagi setiap individu dan bersifat pribadi bagi orang yang belajar. (3) menggunakan pendekatan sistem dalam pemecahan masalah"human learning". Ini berarti bahwa jejak dari para ahli dan praktisi teknologi pendidikan dapat ditelusuri dari hasil pemikiran dan prakteknya dalam pemecahan masalah-masalah pendidikan yang tidak lepas dari ketiga ciri unik tersebut. 3.    Perkembangan Teknologi Pendidikan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar